Skip to content
Laporan Penelitian OPSI MAN 3 Sleman

Analisis Pola Fraktal pada Pertumbuhan Tanaman Melon: Menghubungkan Fenomena Biologi dengan Deret Matematika (Fibonacci) pada Pertanian Buah Melon (Cucumis melo L.) Hidroponik Tetes

Nayla Duhita Indrawati

Madrasah Aliyah Negeri 3 Sleman
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Bilqies Regita Dewi Nur Syafi’i

Madrasah Aliyah Negeri 3 Sleman
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Keyword : Deret Fibonacci, Hidroponik Tetes, Melon (Cucumis melo L.), Nutrisi AB Mix, Pola Fraktal

Abstract

Penelitian ini mengkaji pola fraktal pertumbuhan tanaman melon (Cucumis melo L.) dalam sistem hidroponik tetes dan pengaruh variasi konsentrasi nutrisi terhadap konsistensi deret Fibonacci serta kualitas tanaman. Penelitian dilatarbelakangi oleh pentingnya pendekatan interdisipliner antara biologi dan matematika untuk memahami efisiensi pertumbuhan tanaman secara presisi, yang selama ini umumnya hanya berorientasi pada hasil panen. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat taraf konsentrasi nutrisi AB Mix (P1: 1000 ppm, P2: 2000 ppm, P3: 3000 ppm, dan P4: 4000 ppm) serta lima kali ulangan, penelitian ini mengukur parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter buah, dan tingkat kerimbunan. Hasil analisis menunjukkan bahwa akumulasi pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun mengikuti pola deret Fibonacci yang konsisten dan mendekati Golden Ratio (1,618) pada fase pertumbuhan menengah hingga akhir (sampling ke-4 hingga ke-6), sementara luas daun tidak menunjukkan pola yang konsisten. Selain itu, variasi konsentrasi nutrisi memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun dan tingkat kerimbunan tanaman, di mana perlakuan P4 (4000 ppm) menghasilkan respons pertumbuhan vegetatif yang paling optimum. Temuan ini membuktikan bahwa prinsip matematika berlaku secara konsisten dalam struktur biologis alami sekaligus memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan teknik budidaya tanaman melon berbasis smart farming yang efisien.

Pendahuluan 

1.1 Latar Belakang:

Fraktal dan deret Fibonacci adalah konsep matematika yang tercermin secara alami pada pola pertumbuhan tanaman (seperti efisiensi struktur dan bentuk spiral) untuk menghemat energi serta memaksimalkan luas permukaan daun.

 

Pertanian modern mengandalkan sistem hidroponik drip irrigation yang presisi, namun praktiknya masih berorientasi pada hasil panen (yield oriented) tanpa kajian matematis yang mendalam.

 

Penelitian ini berfokus menganalisis pola fraktal dan keterkaitannya dengan deret Fibonacci pada pertumbuhan tanaman melon (Cucumis melo L.) dalam sistem hidroponik terkendali untuk memberikan dasar ilmiah baru yang lebih efisien.

 

1.2 Rumusan Masalah:

 

  1. Bagaimana pengaruh nutrisi dalam sistem hidroponik terhadap konsistensi pembentukan deret Fibonacci pada pola fraktal tanaman melon?
  2. Bagaimana pengaruh nutrisi dalam sistem hidroponik terhadap kualitas tanaman melon?

 

1.3 Tujuan Masalah:

 

  1. Mengetahui pengaruh nutrisi dalam sistem hidroponik tetes terhadap konsistensi pembentukan deret Fibonacci pada pola fraktal tanaman melon.
  2. Mengetahui pengaruh nutrisi dalam sistem hidroponik tetes terhadap kualitas tanaman melon.

 

1.4 Hipotesis:

 

  1. Nutrisi dalam sistem hidroponik tetes berpengaruh signifikan / tidak berpengaruh signifikan terhadap konsistensi pembentukan deret Fibonacci pada pola fraktal tanaman melon.
  2. Nutrisi dalam sistem hidroponik tetes berpengaruh secara signifikan / tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas tanaman melon.

 

1.5 Manfaat Penelitian:

 

  1. Teoritis: Memberikan kontribusi pengembangan pemahaman konsep matematika dalam menjelaskan pertumbuhan biologi tanaman serta memperkuat teori bahwa pertumbuhan bagian tanaman mengikuti pola deret Fibonacci dan fraktal.
  2. Praktis:
  • Bagi Peneliti: Mengoptimalkan nutrisi, memprediksi kualitas pertumbuhan, dan menjadi inovasi Smart Farming.
  • Bagi Masyarakat: Memfasilitasi budidaya melon mandiri dengan sistem terkontrol serta membuka peluang usaha rumahan.
  • Bagi Siswa: Membuat konsep matematika (deret Fibonacci) lebih nyata, mudah dipahami, serta melatih berpikir ilmiah dan sistematis.
Landasan Teori

2.1 Landasan Teori

 

  • Pertumbuhan Tanaman Melon: Berasal dari Persia dan dibudidayakan luas di Indonesia. Fase vegetatif dan generatifnya (akar, batang, daun, bunga, buah) cenderung terkontrol serta dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan (nutrisi, cahaya, air).
  • Hidroponik Tetes: Metode penanaman di greenhouse menggunakan polybag dan irigasi tetes. Kondisi lingkungannya yang stabil cocok untuk penelitian analisis matematis.
  • Pola Fraktal: Menunjukkan keteraturan pertumbuhan biologis yang dapat memprediksi biomassa, kesehatan tanaman, dan respon lingkungan. Dipadukan dengan pertanian presisi untuk meningkatkan efisiensi sumber daya dan prediksi panen.
  • Deret Fibonacci: Hasil penjumlahan dua angka sebelumnya (F_n = F_{n-1} + F_{n-2}$). Pada melon, pola ini terlihat pada susunan daun, percabangan, dan perkembangan bunga.
  • Keterkaitan Fraktal & Fibonacci: Menggabungkan analisis fraktal dan Fibonacci memberikan pemahaman mendalam terkait pola alam yang tidak biasa serta membentuk kerangka teoritis baru untuk pertanian modern berbasis data.
Metodologi Penelitian

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

  • Waktu: Januari – Agustus 2026 (6 bulan).
  • Tempat: GreenHouse Madania Multi Farm, Mlangi, Gamping, Sleman, DIY.
  • Alasan Lokasi: Membudidayakan melon hidroponik tetes berbasis IoT (Smart Farming) dengan hasil panen berkualitas tinggi.

3.2 Alat dan Bahan

  • Alat Budidaya: Instalasi hidroponik, netpot, polybag, tandon nutrisi, pompa air, selang.
  • Alat Perlakuan: Label, botol, alat tetes.
  • Alat Pengukuran & Data: Penggaris, meteran, jangka sorong, timbangan digital, pH meter digital, mesin IoT, EC meter, smartphone, buku pengamatan, lembar observasi.
  • Bahan: Bibit melon, media tanam, air, pupuk AB Mix (52% P₂O₅ dan 34% K₂O).

3.3 Rancangan dan Prosedur Penelitian

  • Rancangan Penelitian: Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 variasi perlakuan konsentrasi pupuk (5 kali ulangan):
    • P1: 1000 ppm (1 g AB Mix / 1 L air)
    • P2: 2000 ppm (2 g AB Mix / 1 L air)
    • P3: 3000 ppm (3 g AB Mix / 1 L air)
    • P4: 4000 ppm (4 g AB Mix / 1 L air)
  • Jenis Data:
    • Kuantitatif (Utama & Tambahan): Tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, dan diameter buah.
    • Kualitatif: Kerimbunan tanaman.

Tahapan Prosedur:

 

  1. Persiapan: Penyemaian biji di netpot (2 minggu), pemindahan bibit seragam ke polybag, persiapan alat/IoT, dan pembuatan larutan stok pupuk.
  2. Perlakuan: Penyiraman pupuk sesuai perlakuan selama 4 minggu dengan penyetabilan lingkungan (suhu, cahaya, pH, kelembaban) via IoT.
  3. Pengumpulan Data: Pengukuran data kuantitatif dan kualitatif dilakukan 2 kali seminggu secara sistematis.

3.4 Pengolahan dan Analisis Data

  • Analisis Data:
    • Statistik (Kuantitatif): Uji ANOVA (tingkat kepercayaan 95%), dilanjutkan uji DMRT jika berbeda nyata.
    • Matematis: Pemodelan deret Fibonacci untuk menemukan pola fraktal pertumbuhan tanaman.
    • Deskriptif (Kualitatif): Menganalisis kerimbunan tanaman.
  • Interpretasi & Publikasi: Data disajikan dalam bentuk grafik dan pola deret Fibonacci, ditarik kesimpulan secara akumulatif, serta dipublikasikan melalui website untuk transparansi dan aksesibilitas riset.
Hasil & Pembahasan

4.1 Pengaruh Nutrisi dalam Sistem Hidroponik terhadap Konsistensi Pembentukan Deret Fibonacci pada Pola Fraktal di Tanaman Melon (Cucumis melo L.

Hasil pengamatan parameter pertumbuhan berupa tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun tanaman melon (Cucumis melo L.) selama 7 minggu setelah tumbuh yang diberi variasi nutrisi berbeda menghasilkan data sesuai grafik pada gambar berikut. 

 

4.1.a. Tinggi Tanaman 

Berikut ini grafik pertumbuhan tinggi tanaman melon (Cucumis melo L.) terhadap perlakuan konsentrasi nutrisi AB Mix.

Konsistensi pola fraktal mulai terlihat pada sampling ke–4 hingga ke-6 di semua perlakuan. Pada sampling ke-4 mencapai kurang lebih 200 cm, pada sampling ke-5 mencapai kurang lebih 265 sedangkan pada sampling ke-6 mencapai kurang lebih 450 cm. Dari pola pertumbuhan tersebut, urutan peningkatan tinggi tanaman dapat direpresentasikan dan diuji polanya melalui pendekatan deret Fibonacci sebagai berikut:

Jika dikonfirmasi menggunakan rasio pendekatan antar-suku berturut-turut pada data rata-rata sampling tersebut diperoleh kecenderungan rasio pertumbuhan yang mendekati nilai Golden Ratio (1,618). Rasio data antara sampling ke-5 terhadap sampling ke-4 yaitu 1,3; sedangkan rasio data antara sampling ke-6 terhadap sampling ke-5 yaitu 1,69. Golden Ratio adalah perbandingan matematis yang dianggap paling proporsional, estetis, dan harmonis yang sering ditemukan dalam struktur alam, seni, arsitektur, dan tubuh manusia (Yusa, 2025). Hal ini membuktikan bahwa akumulasi pemanjangan tinggi batang tanaman mengikuti prinsip proporsionalitas geometris alami yang selaras dengan karakteristik deret fibonacci.

4.1.b. Jumlah Daun

 

Berikut ini grafik pertumbuhan jumlah daun tanaman melon (Cucumis melo L.) terhadap perlakuan konsentrasi nutrisi AB Mix.

Konsistensi pertumbuhan jumlah daun mulai terlihat lebih teratur pada sampling ke-4 hingga ke-6 di semua perlakuan. Pada sampling ke-4 rata-rata jumlah daun mencapai 24,25 helai, sampling ke-5 meningkat menjadi 48 helai, dan sampling ke-6 mencapai 75,8 helai. Berdasarkan pengujian rasio pertumbuhan antar-suku berturut-turut pada data rata-rata, rasio antara sampling ke-4 terhadap ke-3 yaitu 1,44; sampling ke-5 terhadap ke-4 yaitu 1,98; serta sampling ke-6 terhadap ke-5 yaitu 1,577. Rata-rata keseluruhan, ketiga rasio pada fase menengah hingga akhir tersebut menghasilkan nilai sebesar 1,665, dimana sangat dekat dengan nilai Golden Ratio (1,618). Hal ini membuktikan bahwa akumulasi pembentukan organ daun pada fase pertumbuhan lanjut tidak berjalan secara acak, melainkan mengikuti proporsi geometris alami untuk mencerminkan efisiensi tumbuhan dalam mengatur jumlah daun guna mengoptimalkan intersepsi cahaya matahari (Sujono dkk, 2025).

4.1.c. Luas Daun 

 

Berikut ini grafik perubahan luas daun tanaman melon (Cucumis melo L.) terhadap perlakuan konsentrasi nutrisi AB Mix.

Gambar 3 merupakan grafik luas daun tanaman melon selama 7 minggu terhadap perlakuan variasi konsentrasi nutrisi AB mix. Hampir semua perlakuan menunjukkan fluktuasi nilai luas daun, kecuali  P2. Pada sampling ke-5, perlakuan P1, P3, dan P4 mengalami penurunan luas daun, sedangkan P2 tetap konsisten. Pada sampling ke-6 seluruh perlakuan menunjukkan peningkatan nilai luas daun, dengan perlakuan P4 menghasilkan nilai tertinggi yaitu 216  cm2, dilanjutkan P2 yaitu 193 cm2, kemudian P1 yaitu 165 cm2, serta P3 yaitu 127  cm2. Secara keseluruhan, pola perubahan luas daun pada masing-masing perlakuan dari sampling ke-1 hingga ke-6 tidak menunjukkan peningkatan yang konsisten sesuai pola deret fibonacci. 



Berdasarkan evaluasi ketiga parameter pertumbuhan yang menjadi objek fraktal untuk membuktikan pola deret fibonacci, dalam sistem hidroponik tanaman melon (Cucumis melo L.) dengan pengaruh variasi nutrisi dibuktikan bahwa konsistensi pembentukan deret fibonacci terdapat pada parameter tinggi dan jumlah daun tanaman. Hal tersebut menegaskan bahwa prinsip-prinsip matematika berlaku secara konsisten di berbagai skala alam sekaligus mengukuhkan matematika bukan sekadar instrumen buatan manusia, melainkan manifestasi dari hukum dasar yang menyusun alam semesta, khususnya dalam prinsip dasar pertumbuhan alami yang efisien  (Mokodompit dkk, 2025). 

4.2  Pengaruh Nutrisi dalam Sistem Hidroponik terhadap Kualitas Tanaman Melon (Cucumis melo L.) 

Kualitas tanaman melon (Cucumis melo L.) dalam sistem hidroponik yang diberi perlakuan variasi konsentrasi nutrisi AB Mix dilihat dari parameter pertumbuhan, yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter buah, serta parameter morfologi berupa kerimbunan tanaman. Setelah masa panen, yaitu minggu ke-7, data hasil pengamatan parameter pertumbuhan ditunjukkan tabel berikut. 

Tabel 3 Analisis Of  Variant Pengaruh Perlakuan Variasi Nutrisi terhadap Parameter Pertumbuhan Tanaman Melon (Cucumis melo L.)

Parameter Pertumbuhan

Perlakuan

P1

P2

P3

P4

Tinggi Tanaman (cm)

295,60±84,08 b

265,00±0,00 ab

230,00±0,00 a

235,00±0,00 a

Jumlah Daun (helai)

54,00±3,16 a

70,20±3,49 b

86,20±1,30 c

92,80±1,10 d

Luas Daun (cm2)

194,52±35,81 a

193,04±48,21 a

210,93±89,84 a

216,32±41,89 a

Diameter Buah (cm)

38,00±5,03 a

41,00±3,24 a

39,40±4,22 a

39,60±3,21 a

Keterangan: Notasi huruf sama pada parameter yang sama menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata pada taraf uji Duncan dengan nilai signifikansi 5%.

Berdasarkan Tabel 3, tinggi tanaman pada keempat perlakuan variasi nutrisi tidak terlalu menunjukkan perbedaan yang signifikan, dimana perlakuan P1 dengan tinggi tanaman terbesar yaitu mencapai 295 cm, kemudian diikuti dengan perlakuan P2 dengan tinggi 265 cm,  serta P3 dan P4 yang berkisar kurang lebih 230 cm. Sementara itu, pada jumlah daun, variasi konsentrasi nutrisi memberikan pengaruh yang signifikan pada masing-masing perlakuan. Jumlah daun tertinggi terdapat pada P4 yaitu 216 helai, diikuti P3 sebanyak 210 helai, serta P2 dan P1 sebanyak 194 dan 193 helai. Perbedaan jumlah daun ini menunjukkan bahwa suplai hara makro yang tinggi, khususnya ketersediaan fosfor (P2O5) untuk transfer energi sel dan kalium (K2O) untuk regulasi osmotik serta pembentukan organ daun (Suryani & Utami, 2025). 

Konsentrasi nutrisi tidak berpengaruh secara signifikan pada parameter luas daun dan diameter buah. Akan tetapi dari keseluruhan, perlakuan P4 menghasilkan luas daun paling tinggi yaitu sebesar 216 cm2 . Hal ini menunjukkan bahwa suplai hara makro yang tinggi bagi tanaman melon (Cucumis melo L.) dapat memfasilitasi pembelahan serta pembesaran sel daun secara maksimal pada fase pertumbuhan vegetatif lanjut, sehingga menghasilkan luasan bidang daun yang paling efektif untuk menunjang proses fotosintesis tanaman melon (Yusuf & Apriliya, 2026). Sedangkan perlakuan P2 merupakan konsentrasi yang optimum untuk pertumbuhan diameter buah dimana perlakuan ini menghasilkan nilai tertinggi yaitu 41 cm. 

Secara morfologi, kualitas tanaman melon (Cucumis melo L.) juga dievaluasi berdasarkan tingkat kerimbunan tanaman. Berikut ini tampilan morfologi tanaman melon pada masing-masing perlakuan. 

Gambar 4. Grafik Tingkat Kerimbunan Tanaman Melon (Cucumis melo L.) terhadap Perlakuan Konsentrasi Nutrisi AB Mix. Ket : P1 (1000 ppm), P2 (2000 ppm), P3 (3000 ppm), dan P4 (4000 ppm).

Sebagai acuan penentuan kualitas tanaman melon yang paling baik, dari morfologi dikonversi menjadi skala kerimbunan berdasarkan grafik perbandingan kerimbunan tanaman melon pada berbagai perlakuan konsentrasi nutrisi (Gambar 5). 

Grafik di atas menunjukkan perlakuan P4 menunjukkan tingkat kerimbunan yang paling tinggi dengan kategori sangat rimbun, kemudian diikuti P3 dan P2 dengan kategori rimbun, serta P1 dengan kategori kurang rimbun. Hal ini membuktikan bahwa secara morfologi, tanaman melon tumbuh subur seiring dengan peningkatan konsentrasi nutrisi AB Mix. konsentrasi AB Mix yang lebih tinggi berperan langsung dalam mengoptimalkan proses fisiologis tanaman. Kandungan fosfat penting dalam penyusunan asam nukleat, fosfolipid, serta pembentukan ATP yang mendukung pembelahan sel secara aktif di jaringan meristem apikal dan lateral (Rif’an dkk, 2024). Di sisi lain, menurut Ramadhan dkk (2024) kalium bertindak sebagai pengatur stomata dan translokasi hasil fotosintesis ke seluruh organ vegetatif. Kombinasi peningkatan kedua hara makro ini memicu pertumbuhan tunas dan perluasan lembaran daun yang lebih masif, sehingga kerimbunan kanopi pada perlakuan P4 mencapai tingkat maksimum.

Kesimpulan
  1. Akumulasi pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun menunjukkan pola deret fibonacci yang konsisten dan mendekati nilai Golden Ratio (1,618) pada fase pertumbuhan menengah hingga akhir (sampling ke-4 hingga ke-6). Hal ini membuktikan bahwa pembentukan organ vegetatif tanaman melon mengikuti prinsip proporsionalitas geometris alami yang selaras dengan karakteristik deret Fibonacci, menegaskan keteraturan hukum matematika dalam proses pertumbuhan biologis yang efisien.
  2. Variasi konsentrasi nutrisi AB Mix memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah daun dan tingkat kerimbunan tanaman, di mana perlakuan P4 (4000 ppm) menunjukkan hasil paling optimum pada parameter jumlah daun dan tingkat kerimbunan morfologi.